Selasa, 12 Juni 2012

PENJUAL ES TONTONG




     PENJUAL ES TONTONG Tong.....tong...tong.....terdengar suara seperti gong lewat di depan rumahku,tiba-tiba tanpa aba aba aku dan temanku berlari keluar dengan berteriak ”eeeeeessssss”.Dengan uang lima ratus rupiah ditangan kami masing-masing kami berlari ketukang es,dia menyambut kami dengan ramah dan melayani setiap permintaan rewel dan t
ak sabaran kami dengan senyum,dia dengan santai dan sepertinya sudah terbiasa melayani malaikat-malaikat kecil nakal yang memberinya rezki di siang yang terik pada hari itu.
      Itulah acara rutinku pada hari senin,rabu,dan jumat saat aku berusia lima tahun.Aku dan teman-teman setiap jam satu siang merengek-rengek pada orang tua kami meminta uang lima ratus rupiah untuk membeli es yang kami sebut es tongtong,karena kalau dia lewat berbunyi tong....tong...tong.Aku akan merasa gembira jika orang tuaku mau memberi ku uang untuk membeli es ini walaupun kadang kala aku kena jewer saat dilarang makan es karena flu dan aku tetap rewel meminta uang,akan tetapi ini adalah suatu mozaik kenangan yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.Hal itu terus berlanjut sampai aku remaja walaupun aku membelinya tak rutin dalam seminggu akan tetapi aku selalu membeli setidaknya sekali dalam satu bulan.
       Penjual es tongtong ini adalah lelaki separuh baya berumur empat puluhan bernama pak Warsito.Dia mengendarai sepeda dengan dua wadah bulat berisi es krim beku didalamnya.Saat dia lewat dia akan menghidupkan alarm yang membuat telinga anak –anak berdiri saat mendengarnya yaitu talempong yang dia pukul dengan tongkat kayu sehingga menghasilkan bunyi tong..tong...tong (talempong adalah alat musik tradisional Sumatera Barat menghasilkan bunyi dengan cara dipukul).Jika ada pembeli dia akan bertanya pakai kerupuk atau pakai roti?,jika pakai kerupuk maka dia ambil kerupuk yang sudah dibentuk sedimikian rupa untuk es krim dan dia akan mengabil es krim dengan sendok khusus slurp...slurp suara sendok beradu dengan es krim dan dia akan menupuk es krim itu di kerupuk..mmmh nikmat sekali teman,begitu pula jika dengan roti maka dia mengambil roti hambar dan meletakkan eskrim tongtong dan melipatnya,inipun tak kalah nikmatnya.
     Es tongtong karya Pak Warsito merupakan karya yang luar biasa menurutku.Rasa dari eskrim tongtong pak Warsito memiliki ciri khas yang tak akan kita temui pada es krim lainnya.Kadang-kadang dia bereksperimen dengan rasa es krimnya yang membuat orang tak hanya anak-anak penasaran dan tak bosan dengan es krim buatannya.Setiap minggunya dia membawa eskrim dengan rasa yang berbeda,kadang-kadang rasa cendol,rasa mangga,durian dan nangka.Hal tersebut juga menjadi faktor es krim Pak Warsito selalu ditunggu.
       Awalnya aku tidak peduli dengan Pak Warsito.Melihat dia membawa es krim dan aku membeli es krimnya kemudian menikmati es krim tersebut sudah merupakan hal yang cukup memuaskan bagiku.Akan tetapi saat aku menginjak usia remaja aku mulai penasaran kepada sosok Pak Warsito.Bagaimana tidak,Pak Warsito itu bukan warga kampung kami tapi dia sudah dikenal oleh warga kampung dengan kelezatan es krimnya.Aku menjadi sangat penasaran dengan Pak Warsito maka aku bertanya pada penduduk kampung yang kurasa pernah berbincang dengan Pak warsito.
       Aku mulai bertanya pada warga,hasilnya memang tidak memuaskan karena informasi yang kudapatkan tidak banyak,karena Pak Warsito adalah orang pendiam,yang banyak bicara hanyalah senyumannya.Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya sedikit tapi ramah yang membuat orang senang membeli eskrim darinya.Tetapi satu yang baru ku ketahui,dan fakta yang sangat mengejutkanku,tempat tinggalnya lebih kurang enam puluh kilometer jaraknya dari rumahku,jadi jika dia berjualan hanya sampai kampungku berarti dia mengendarai sepeda lebih kurang seratus dua puluh kilo meter bolak balik kerumahnya.Aku tidak percaya,mungkin itu hanya omongan orang,menurutku tak mungkinlah orang yang sudah tua seperti dia mampu mengayuh sepeda sejauh itu,apalagi kuperkirakan umurnya lima puluhan karena selama yang ku ketahui dia berjualan es krim semenjak aku berumur lima tahun,semua ini seharusnya langsung ku klarifikasi ke orangnya langsung.Maka hari itu kuputuskan jika aku bertemu penjual es tongtong ini akan kutanyakan langsung.
        Aku mulai mencari cara berbincang dengan Pak Warsito si penjual es tontong.Sudah kutunggu beberapa hari batang hidungnya tidak kelihatan.Selama beberapa satu minggupun sosok penjual es krim yang biasanya memukul talempong sebagai tanda kehadirannya dan es krim pusakanya ini masih tidak kelihatan,”kemana penjual eskrim tontong ini”pikirku.Aku berpikir mungkin dia sakit hingga dia tak sanggup mengayuh sepeda,atau mungkin dia sudah bosan menjadi tukang es krim,karena dia sudah berjualan sekian belas tahun,atau kemungkinan terburuk dia sudah meninggal.Ah,kalau memang demikian maka pupuslah harapanku untuk mengetahui siapa pria yang seakan-akan telah mewarnai masa kanak-kanak kami.
         Satu bulan kemudian aku sudah mulai lupa akan sipenjual es tontong ini,aku mulai sibuk dengan urusan sekolahku.Pada suatu waktu waktu aku baru pulang sekolah,kebetulan aku jalan kaki,tiba-tiba dibelakangku terdengar bunyi yang sangat familiar,musik klasik yang waktu kami kecil membuat kami meronta-ronta minta uang,tong.....tong...tong.Langsung aku berbalik,aku melihat dibelakangku penjual es tontong Pak Warsito sedang melayani ibu dan anak kecil berumur sekitar enam tahun yang kelihatannya tak sabaran ketika penjual es tontong mengambilkan es untuknya.Pas selesai es diambilkan,anak kecil tersebut langsung menyerobot es tersebut dan lari,ibu itu mengeluarkan uang tergesa gesa dan setelah membayar langsung lari mengejar anaknya yang rewel tersebut.Pak Warsito hanya tersenyum melihat drama reality show dari ibu dan anak itu,mungkin hal itulah salah satu hiburan dalam pekerjaannya yang berat ini.
     Melihat Pak Warsito entah kenapa aku jadi bahagia.Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini aku ingin bertanya tentang siapa penjual es tontong ini sebenarnya,maka ketika aku mulai mendekat tiba-tiba anak anak sekitar lima orang datang mengerubungi dagangan Pak Warsito.”Ah, aku harus menunggu watu yang tepat”pikirku.Aku menunggu penjual es tontong ini selesai dengan para pembelinya.Baru saat dia selesai aku mendekat dan membeli es krim sebagai pembuka pembicaraan. 
              ‘pak es krim pakai kerupuk satu”ujarku
          Boleh”ujarnya.Eh pak ngomong-ngomong kok bapak gak jualan satu bulan ini?bapak sakit?”sambungku
           “Oh nggak nak,kemaren bapak habis menghadiri acara wisuda anak bapak,kan dia baru lulus dari kuliah”ujarnya.
       Anak bapak kuliah?”tanyaku,aku merasa takjub anaknya bisa dia kuliahkanIya,
     dia kemaren baru lulus dari UNPAD jurusan kedokteran,alhamdulilah dia menyusul kakanya yang sudah lulus tiga tahun yang lalu,sekarang tanggungan saya masih ada satu kuliah  di UNRI jurusan Perikanan’ujarnya lagi
Wah ini merupakan kejutan yang sangat besar untukku bagaimana seorang kakek tua mengkuliahkan tiga anaknya hanya dengan berjualan es.
     Wah bapak hebat ya dengan berjualan es krim bisa menyekolahkan anak bapak”ujarku
    Emang uang hasil penjualan eskrim ini tidak banyak,akan tetapi semua anaka saya sadar diri,sehingga dia sekolah dengan sungguh-sungguh,alhasil saat mereka sekolah dan kuliah mereka dapat beasiswa saya bisa terbantu,walaupun demikian setidakanya uang es krim inilah yang mengantarkan mereka jadi sarjana seperti sekarang ini
Sekarang aku betul-betul kagum kepada sosok bapak Warsito,lau aku masih penasaran dan bertanya lagi... Rumah bapak diamana? 
Saya tinggal di kampung Rejo ujarnnya
Ternyata benar tempat tinggal bapak ini adalah di daerah yang jaraknya lebih kurang enam puluh kilometer dari tempatku,jauh sekali dia mengendarai sepeda,kemudian aku bertanya lagi
"Kenapa bapak masih pakai sepeda,padahal bapak bisa membeli motor mengingat anak bapak yang sudah jadi dokter?,kenapa tak minta dibelikan....Jawaban dari pertanyaanku ini ternyata cuukup mengejutkan,,
dengan senyum Pak Warsito berkata”jika aku ingin membeli motor nak,hari ini juga bisa kudapatkan dari anakku atau hasil tabungannu selama aku menjual es krim,akan tetapi jika aku memakai motor saat berjualan tentu aku akan sulit mendengar para pembeli ingin membeli eskrimku,aku tentu akan sulit mendengar suara anak-anak tertawa ketika aku lewat,karena kau tau motor itu berisik.Satu lagi aku cinta alam ini jadi mengurangi polusi udara  he...he.he. Dia tertawa dan berlalu,aku tertegun di tempat,orang setua dia masih meu dan bisa mengendarai sepeda dengan jarak sejauh itu,padahal aku belum tentu dan mungkin tak kuat mengendarai sepeda dengan jarak lebih kurang enam puluh kilometer,satu lagi penjual es tontong itu menyindir aku dan anak muda lainnya yang manja dengan teknologi,bahkan saking manjanya jalan saja dia malu.Mau kesuatu tempat hanya berjarak sepuluh meter dia naik motor.Mau jadi apa bangsa ini,dengan anak muda seperti itu Indonesia nantinya tentu akan memiliki pemimpin yang pemalas dan manja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar